Minggu, 16 Februari 2014

PERCOBAAN METODE DETEKSI RADIASI



PERCOBAAN METODE DETEKSI RADIASI
A.     Tujuan

1.      Mendeteksi bahan radioaktif
2.      Menentukan pengaruh jarak terhadap intensitas radiasi

B.     Dasar Teori

Radiasi merupakan suatu cara perambatan energi dari sumber energi ke lingkungannya tanpa membutuhkan medium atau bahan penghantar tertentu. Radiasi nuklir memiliki dua sifat yang khas yaitu tidak dapat dirasakan secara langsung dan dapat menembus berbagai jenis bahan. Oleh karena itu, untuk menentukan ada atau tidak adanya radiasi nuklir diperlukan suatu alat, yaitu pengukuran radiasi yang digunakan untuk mengukur kuantitas, energi atau dosis radiasi.

Detektor Geiger-Muller merupakan salah satu detektor yang berisi gas. Selain Geiger-Muller masih ada detektor lain yang merupakan detektor isian yaitu detektor ionisasi dan detektor proporsional. Ketiga macam detektor tersebut secara garis besar prinsip kerjanya sama, yaitu sama-sama menggunakan medium gas. Perbedaannya hanya terletak pada tegangan yang diberikan pada masing-masing detektor tersebut. Detektor Geiger-Muller bekerja dengan cara mengukur perubahan yang disebabkan oleh penyerapan energi radiasi oleh medium penyerap. Sebenarnya terdapat banyak mekanisme yang terjadi di dalam detektor tetapi yang sering digunakan adalah proses ionisasi dan proses sintilasi. Prinsip kerja detektor Geiger-Muller pada umumnya didasarkan pada interaksi zarah radiasi terhadap detektor (sensor) yang sedemikian rupa sehingga tanggapan (respon) dari alat akan sebanding dengan efek radiasi atau sebanding dengan sifat radiasi yang diukur. Detektor Geiger-Muller terdiri dari suatu tabung logam atau gelas dilapisi logam yang biasanya diisi gas seperti argon, neon, helium, atau lainnya (gas mulia dan gas poliatomik) dengan perbandingan tertentu.
Pada praktikum ini, praktikan diharapkan dapat mengenal tentang beberapa tipe partikel seperti proton, elektron, neutron, foton, meson, dan anti partikelnya. Para praktiken juga diharapkan dapat mengetahui cara kerja Geiger-Muller seperti yang telah dijelaskan diatas. Selanjutnya dari kedua tujuan tersebut, para praktikan diharapkan dapat menyebutkan dan menjelaskan jenis-jenis radiasi yang terjadi di lingkungan sekitar kita.
Adapun jenis-jenis radiasi yang ada disekitar kita antara lain radiasi ionisasi dan radiasi non-ionisasi. Radiasi ionisasi adalah beberapa jenis radiasi yang memiliki energi cukup untuk mengionisasi partikel. Sedangkan radiasi non-ionisasi merupakan jenis radiasi yang tidak membawa energi cukup untuk mengionisasi atom atau molekul. Yang termasuk dalam radiasi ionisasi antara lain Radiasi Alpha (α), Radiasi Beta (β), dan Radiasi Gamma (γ). Sementara pada radiasi non-ionisasi terdapat radiasi neutron, radiasi elektromagnetik, cahaya, dan radiasi thermal.
Peluruhan alpha (α) adalah jenis peluruhan radioaktif dimana inti atom memancarkan partikel alpha dan dengan demikian mengubah (atau meluruh) menjadi atom dengan nomor massa 4 kurang dan nomor atom 2 kurang. Namun karena massa partikel yang tinggi sehingga memiliki sedikit energi dan jarak yang rendah. Partikel alpha dapat dihentikan dengan selembar kertas (atau kulit).
Peluruhan beta (β) adalah jenis peluruhan radioaktif dimana partikel beta (elektron atau positron) dipancarkan. Radiasi beta-minus (β-) terdiri dari sebuah elektron yang penuh energi. Radiasi ini kurang mudah terionisasi daripada alpha, tetapi lebih tinggi daripada sinar gamma. Elektron seringkali dapat dihentikan dengan beberapa sentimeter logam. Radiasi ini terjadi ketika peluruhan neutron menjadi proton dalam nukleus, melepaskan partikel beta, dan sebuah anti neutrino.

Radiasi beta-plus (β+) adalah emisi positron. Jadi, tidak seperti β-, peluruhan β+ tidak dapat terjadi dalam isolasi, karena memerlukan energi, massa neutron lebih besar daripada massa proton. Peluruhan β+ hanya dapat terjadi didalam nukleus ketika nilai energi yang mengikat dari nukleus induk lebih kecil dari nukleus. Perbedaan antar energi ini masuk kedalam reaksi konversi proton menjadi neutron, positron, dan anti neutrino. Dan ke energi kinetik dari partikel-partikel.

Radiasi gamma atau sinar gamma adalah sebuah bentuk berenergi dari radiasi elektromagnetik yang diproduksi oleh radioaktifitas atau proses nuklir atau subatomik lainnya seperti penghancuran elektron-positron. Radiasi gamma terdiri dari foton dengan frekuensi lebih besar dari 1019 Hz. Radiasi gamma bukan elektron atau neutron sehingga tidak dapat dihentikan hanya dengan kertas atau udara, penyerapan sinar gamma lebih efektif pada materi dengan nomor atom dan kepadatan yang tinggi. Bila sinar gamma bergerak melewati sebuah materi maka penyerapan radiasi gamma proporsional sesuai dengan ketebalan permukaan materi tersebut.

C.     Alat dan bahan
a.       CGM
b.      Detektor
c.       Bahan radioaktif (Sr, Na, dll)
d.       Mistar

D.     Langkah – langkah kerja :
1.      Menyiapkan alat dan bahan
2.      Menyusun alat seperti gambar berikut :
CGM
 



detektor
 
s
                                                     
                                                   
radioaktif
 



3.      Menghubungkan CGM dan detektor ke sumber tegangan.
4.       Memilih bahan radioaktif yang akan digunakan, misal Sr. Selanjutnya meletakkan bahan radioaktif tersebut pada posisi yang akan ditentukan.
5.      Mengatur jarak antara bahan radioaktif dengan detektor, kemudian menekan tombol start untuk memperoleh cacah data dengan waktu 10 detik.
6.      Melakukan percobaan 10 kali pengulangan dengan memvariasi jarak .
7.      Mencatat hasil percobaan pada tabulasi data.

E.      Tabulasi Data

NO
VARIASI JARAK
CACAH TIAP 10 DETIK
CACAH RATA-RATA TIAP 10 DETIK
CACAH RATA-RATA TIAP 1 DETIK
1.
1 cm
1895
1867.3
186.73
1756
1994
1778
1794
1935
1898
1882
1\851
1890
2.
2 cm
1018
999
99.90
1005
965
1025
1017
996
981
961
1006
1016
3.
3 cm
603
592.4
59.24
620
620
603
626
559
571
568
546
608
4.
4 cm
505
491.7
49.17
482
471
511
495
498
487
478
485
505
5.
5 cm
321
344.7
34.47
355
367
347
343
353
336
317
313
341
6.
6 cm
231
241.5
24.15
235
259
255
239
236
229
255
227
249
7.
7 cm
206
192,4
19.24
191
209
192
201
170
191
180
199
185
8.
8 cm
156
149.5
14.95
166
140
141
129
162
149
164
142
146
9.
9 cm
123
126.4
12.64
132
124
120
136
119
127
136
123
124
10.
10 cm
115
113.6
11.36
119
110
118
120
125
101
105
98
125

F.      Analisis Data

Menganalisis data dengan aplikasi origin :

Polynomial Regression for Data1_B:
Y = A + B1*X + B2*X^2

Parameter         Value   Error
------------------------------------------------------------
A         2194,75           207,95453
B1        -589,74288      95,48462
B2        41,37045         9,31243
------------------------------------------------------------

R-Square(COD)           SD       N         P
------------------------------------------------------------
0,93707           163,43256       9          2,49179E-4
------------------------------------------------------------



G.     Pembahasan

Pada percobaan Metode Deteksi Radiasi ini bertujuan untuk mendeteksi bahan radioaktif dan menentukan pengaruh jarak terhadap intensitas radiasi, bahan radioaktif yang kami gunakan yaitu Sr (Strontium).
Dari data hasil pengamatan Praktikum Pengaruh Jarak terhadap Intensitas Radiasi diatas, dapat diketahui bahwa jumlah partikel radioaktif yang dapat terdeteksi oleh alat Geiger Muller pada jarak sebesar 1 cm sebanyak  1867.3 count/10 sec, pada jarak 2 cm sebanyak 999 count/10 sec, jarak 3 cm sebanyak  592,4  count/10 sec,jarak 4 cm sebanyak 491,7 count/10 sec, dan pada jarak 5 cm jumlah partikel radioaktif yang dapat terdeteksi sebanyak 347,7  count/10 sec, jarak 6 cm jumlah partikel radioaktif yang dapat terdeteksi sebanyak 241,5  count/10 sec, jarak 7 cm jumlah partikel radioaktif yang dapat terdeteksi sebanyak 206  count/10 sec, jarak 8 cm jumlah partikel radioaktif yang dapat terdeteksi sebanyak 156  count/10 sec, jarak 9 cm jumlah partikel radioaktif yang dapat terdeteksi sebanyak 123  count/10 sec, jarak 10 cm jumlah partikel radioaktif yang dapat terdeteksi sebanyak 115 count/10 sec. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin dekat jarak pemancaran maka nilai intensitas radiasi yang terdeteksi oleh alat Geiger-Muller semakin banyak seperti yang telah digambarkan pada grafik hubungan jarak pemancaran dengan intensitas radiasi.

            Grafik 1. Pengaruh Jarak Terhadap Intensitas Radiasi

Jika ditinjau dari bahan radioaktif yang digunakan pada praktikum ini Sr-90, dapat diketahui bahwa nilai intensitas radiasi yang dipancarkan oleh bahan Sr-90 memiliki nilai intensitas radiasi yang relatif lebih besar dibandingkan dengan nilai intensitas radiasi yang dipancarkan oleh bahan Co-60 dan Am-241.
           

G.  Kesimpulan
Dari percobaan diatas dapat disimpulkan bahwa :
·         Semakin jauh jarak bahan radioaktif dengan detektor maka semakin kecil hasil cacah data yang diperoleh.
·         Zat radioaktif yaitu zat yang dapat memancarkan radiasi secara spontan tanpa pengaruh dari luar
·         Prinsip kerja percobaan Geiger Muller adalah dapat digunakan untuk mendeteksi radiasi alfa dan beta
·         Semakin jauh jarak antara tabung Geiger kontra dengan sumber radiasi maka presentase penurunan tarif hitungnya yaitu akan semakin berkurang
·         Ketebalan suatu bahan mempengaruhi tingkat radiasinya, apabila semakin tebal bahan maka akan mengurangi intensitas radiasi yang dideteksi oleh pencacah Geiger  Muller